Dulu aku pernah bermimpi
menjadi seorang komikus di usia 17 tahun.
Setelah menginjak usia 17 tahun
aku kembali bermimpi
mewujudkan impian sebelum tahun berakhir.
Tapi kini angka 18 sudah berlalu
dan aku mengapung dalam laut harapan
yang hanya imaji.
Aku terombang-ambing
dalam idealisme yang mulai hanyut
diterpa badai kenestapaan.
Kenyataan tak seburuk itu,
tapi aku jatuh dengan mudahnya dalam sendu.
Selalu merana.
Tanpa sebab pasti.
Ke mana perginya sosok yang penuh mimpi dan tawa?
Yang memandang dunia dalam cahaya optimistik?
Segala potensi hanya potensi.
Tanpa kepercayaan dan asa.
Sembilan belas.
Kau tak boleh memelas.
Buatlah jiwamu terpana
akan cahaya cinta
yang terpancar di udara.
Sinari sanubari
dan hilangkan sedih
akan esok hari.
Sembilan belas.
Kumohon, buat dirimu berbesar hati
di hari yang menanti,
20.
Semoga Tuhan merahmati.
Kutunggu kau satu masa lagi.
Berjuanglah, aku mencintaimu!
menjadi seorang komikus di usia 17 tahun.
Setelah menginjak usia 17 tahun
aku kembali bermimpi
mewujudkan impian sebelum tahun berakhir.
Tapi kini angka 18 sudah berlalu
dan aku mengapung dalam laut harapan
yang hanya imaji.
Aku terombang-ambing
dalam idealisme yang mulai hanyut
diterpa badai kenestapaan.
Kenyataan tak seburuk itu,
tapi aku jatuh dengan mudahnya dalam sendu.
Selalu merana.
Tanpa sebab pasti.
Ke mana perginya sosok yang penuh mimpi dan tawa?
Yang memandang dunia dalam cahaya optimistik?
Segala potensi hanya potensi.
Tanpa kepercayaan dan asa.
Sembilan belas.
Kau tak boleh memelas.
Buatlah jiwamu terpana
akan cahaya cinta
yang terpancar di udara.
Sinari sanubari
dan hilangkan sedih
akan esok hari.
Sembilan belas.
Kumohon, buat dirimu berbesar hati
di hari yang menanti,
20.
Semoga Tuhan merahmati.
Kutunggu kau satu masa lagi.
Berjuanglah, aku mencintaimu!
Saskia Zahra Huwaida.
Bandung, 21 Maret 2018
Comments
Post a Comment