Skip to main content

Mimpi atau Bunga Tidur

Aku punya mimpi. Mimpiku sangat banyak meski tak sebanyak taburan bola gas di angkasa.
Aku punya mimipi. Mimpi itu tengah kuperjuangkan dan selalu bertambah seiring waktu tanpa kusadar.
Terkadang, mimpi di hari lalu terlupa dan terganti dengan mimpi di hari ini.
Tapi, mimpi besarku masih kuingat dan selalu kugenggam.

Aku tahu apa mimipiku. Aku tahu betapa susahnya untuk menggapainya.
Aku tahu itu, tapi  itu tak menghilangkan kepercayaanku.

Hei, aku punya iman, tapi terkadang aku tak memercayai keimananku sendiri. 

Impianku selalu berganti.
Pramugari, guru matematika, guru TK, animator, peneliti, cendekiawan.
Aku memikirkan hal-hal baik yang akan terjadi di masa depan, tapi baru kusadar aku tak banyak merangkak menuju masa depan.

Kini impianku adala menjadi animator. Untuk itu, aku harus punya banyak dana karena biaya yang tidak murah. Aku harus bisa menjadi seorang ekstrovert untuk memperluas relasiku. Aku perlu belajar kepemimpinan agar aku bisa mengerahkan orang-orang memunculkan potensi hebat mereka.

Kini, harusnya aku menimba ilmu dengan benar, menguasai berbagai aspek yang kuperlukan nanti. ;memperluas relasi dan mengembangkan karakter; mengembangkan potensi diri; mengumpulkan uang; dan mencoba merintis usahaku sendiri.

Tapi, hei, apakah yang kulakukan ini sudah sesuai dengan tuntutan idealku?
Sejak kapan aku berubah menjadi seorang penunda yang mendambakan sebuah kesempurnaan padahal yang ia lakukan hanya berdiam, berdiam, dan berdiam. Dia hanya berdiam diri sambil memikirkan itu dalam otaknya! HEI! Apakah pekerjaannya bisa menuntaskan dirinya sendiri. Bukankah dia hanya buang-buang waktu? Apakah ia tidak berpikir?

Judgement.
Dalam diriku yang serba seimbang ini, ada sisi yang tidak takut akan penghakiman orang lain.
Diriku yang lain tahu itu tidak berarti apa-apa dan sebuah kerugian yang besar jika tersandung penghakiman mereka yang bahkan hanya kaupikirkan dalam otakmu.

Jika terus begini, hidupku hanya bunga tidur yang tak dapat dipertanggungjawabkan di kemudian hari.

Comments

Popular posts from this blog

Untuk Sahabat

Mungkin sudah 3 tahun lamanya aku tidak merasakan kasih dari seorang sahabat yang teramat kusayangi. Keceriaan, kehangatan yang selalu terpancar darimu setiap kali kau tersenyum, tertawa. Canda-tawa, hari-hari yang kita lalui bersama. Ketentraman yang terkadang merasuk ke dalam jiwa saat berada di sampingmu. Aku benar-benar merindukannya. Masih ingatkah dirimu akan kenangan kita bertahun-tahun yang lalu? Saat kita membuat bangau dari kertas-ketas lipat? Di ruangan itu, dengan seorang pemandu, kita membuat bangau kita masing-masing. Kau dengan mudah dapat membuatnya, namun kurasa saat itu aku gagal. Namun tak apa, hal itu telah membuatku senang. Masih adakah memori yang melekat tentang hujan di masa lalu? Jujur aku sangat menyukainya. Mengapungkan kapal-kapal kertas ataupun bunga-bunga mangkok di bak pasir yang tergenang air, berharap seluruh permohonan kita terkabul. Meski aku tak lagi mengingat namanya sebagaimana yang pernah kau katakana padak, dia tak mengingat akan sos...

Gambar: 2016-2017

Dulu aku berpikir telah bisa menggambar dengan baik. Kukira aku akan menjadi seorang ilustrator yang terkenal dan sukses. Tapi aku salah besar. Gambarku tidak spesial, mereka biasa saja.  Tapi aku bersyukur akhirnya aku menyadari hal itu sehingga aku bisa menundukkan diri dan memulai semua dari awal.