Bagi diriku sediri, aku bisa melakukan berbagai hal.
Jika belum bisa melakukan suatu hal, tiap orang memiliki kesempatan untuk mempelajarinya.
Jadi, aku merasa diriku bisa melakukan apapun.
Kepercayaan dan optimisme diri yang terlalu tinggi itu bisa merusak.
Merusak hati dan visi diri sendiri di kemudian diri.
Aku sudah mengalaminya, dan tengah terkabung di dalamnya.
Aku bisa melakukan apapun, tapi hanya sekadar bisa melakukan.
Yang kulakukan lebih baik dari sebagian orang, tapi tidak dari sebagian orang.
Dan aku selalu berada di tengah, tak pernah di puncak. Belum pernah di puncak.
Mencapai puncak memang melelahkan.
Aku tak pernah jauh dari rasa putus asa ketika mendaki di jalan menuju atas.
Kadang, aku harus bersabar karena melihat respon yang tak terlalu bersahabat.
Memang tidak ada yang mengkritik apa yang kulakukan. Tak banyak orang yang mengkritik apa yang kubuat, tapi juga tak banyak yang menyukainya. Aku tak berhasil menarik hati manusia.
Semua yang kubuat biasa dan membosankan, terutama bagi orang-orang di luar sana.
Aku merasa bisa, padahal aku tak bisa.
Aku merasa mampu, padahal aku tak mampu.
Lama kelamaan aku makin kehilangan kepercayaan akan hal yang telah kupercayai di masa lalu.
Apakah ini baik atau buruk?
Aku tak tahu, aku belum tahu.
Aku perlu berubah, tapi ke arah mana? Aku terombang ambing karena diriku hanya berada di tengah, dalam keadaan terlabil.
Agaknya, ini cara Tuhan mendidikku.
Agar aku tak menjadi hambaNya
yang merasa dirinya serba bisa
dan merendahkan orang
Aku bersalah.
Jika belum bisa melakukan suatu hal, tiap orang memiliki kesempatan untuk mempelajarinya.
Jadi, aku merasa diriku bisa melakukan apapun.
Kepercayaan dan optimisme diri yang terlalu tinggi itu bisa merusak.
Merusak hati dan visi diri sendiri di kemudian diri.
Aku sudah mengalaminya, dan tengah terkabung di dalamnya.
Aku bisa melakukan apapun, tapi hanya sekadar bisa melakukan.
Yang kulakukan lebih baik dari sebagian orang, tapi tidak dari sebagian orang.
Dan aku selalu berada di tengah, tak pernah di puncak. Belum pernah di puncak.
Mencapai puncak memang melelahkan.
Aku tak pernah jauh dari rasa putus asa ketika mendaki di jalan menuju atas.
Kadang, aku harus bersabar karena melihat respon yang tak terlalu bersahabat.
Memang tidak ada yang mengkritik apa yang kulakukan. Tak banyak orang yang mengkritik apa yang kubuat, tapi juga tak banyak yang menyukainya. Aku tak berhasil menarik hati manusia.
Semua yang kubuat biasa dan membosankan, terutama bagi orang-orang di luar sana.
Aku merasa bisa, padahal aku tak bisa.
Aku merasa mampu, padahal aku tak mampu.
Lama kelamaan aku makin kehilangan kepercayaan akan hal yang telah kupercayai di masa lalu.
Apakah ini baik atau buruk?
Aku tak tahu, aku belum tahu.
Aku perlu berubah, tapi ke arah mana? Aku terombang ambing karena diriku hanya berada di tengah, dalam keadaan terlabil.
Agaknya, ini cara Tuhan mendidikku.
Agar aku tak menjadi hambaNya
yang merasa dirinya serba bisa
dan merendahkan orang
Aku bersalah.
Comments
Post a Comment